Mar 19, 2026
ogoh ogoh pengerupukan 18 maret 2026 lampung
2:20 PM
Mengusir Bhuta Kala
Tradisi Pengerupukan memiliki makna mengusir Bhuta Kala atau membuang sifat-sifat buruk manusia seperti keserakahan, dengki, nafsu, dan unsur-unsur negatif lainnya. Diharapkan setelah Pengerupukan, umat manusia menjadi pribadi yang lebih baik di hari-hari kedepannya.
Malam Pengerupukan menjadi salah satu momen paling dinanti sekaligus sarat makna dalam rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali. Digelar sehari sebelum Nyepi, malam ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga simbol pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif. Suasana Bali yang biasanya tenang berubah menjadi penuh semangat, bunyi-bunyian, dan visual spektakuler dari ogoh-ogoh yang diarak di berbagai wilayah.
Secara filosofis, Pengerupukan merupakan bagian dari upacara Bhuta Yajna, yaitu persembahan kepada bhuta kala atau unsur-unsur alam yang dianggap memiliki energi liar. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan alam semesta (bhuana agung) dan diri manusia (bhuana alit), sehingga tercipta harmoni menjelang Hari Raya Nyepi yang sakral.
Selain pawai ogoh-ogoh, masyarakat Bali juga melakukan ritual “ngerupuk,” yaitu mengusir roh jahat dengan bunyi-bunyian seperti kentongan, obor, hingga api. Tradisi ini biasanya dilakukan di rumah masing-masing, dengan mengelilingi pekarangan sambil membawa api dan menaburkan nasi serta bawang sebagai simbol penetral energi negatif.
















